Sejarah Berdirinya Kadipaten Purwodadi di Wilayah Magetan

Pembentukan Kabupaten Purwodadi diawali dengan upaya Pemerintah Hindia Belanda untuk mengakui kekuasaan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta atas wilayah Rantau Timur yang tunduk kepada Pemerintah Hindia Belanda di Batavia, sehingga diadakan konferensi seluruh bupati di Kediri. Dan wilayah karesidenan Madiun diadakan di desa Sepreh, Ngawi pada tahun 1830.


Pada zaman dahulu desa Purwodadi sebenarnya adalah hutan, dan didirikanlah pemukiman penduduk hingga muncul Kadipaten Purwodadi yang megah pada saat itu, dengan sebuah bangunan Kadipaten seluas kurang lebih 4 hektar.
Berdirinya Kadipaten menunjukkan bahwa Purwodadi pada waktu itu memiliki tugas penting bagi Kabupaten Magetan selama Perang Diponegoro. Desa Purwodadi merupakan desa yang terletak di perbatasan Kabupaten Barat dan Kabupaten Karangrejo, dan terletak di lapangan yang sangat strategis yang pada awalnya merupakan alun-alun kota dan digunakan sebagai pasar ketika Kadipaten Purwodadi masih aktif.


Sejak kedatangan priyayi dari Puro Mangkunegaran bernama Raden Ahmad, kawasan hutan tersebut berubah menjadi pemukiman masyarakat pada Senin Kliwon Bulan Mulud. Ia adalah seorang bangsawan dari Praja Mangkunegaran yang kalah perang dengan Kompeni Belanda.
Karena pada saat itu wilayah Jawa Tengah telah menjadi tempat yang rawan diserang oleh Kompeni Belanda.
Raden Ahmad mendapat nasehat dari Adipati Semarang untuk pergi ke kawasan timur Gunung Lawu, akhirnya beliau dan para pengikutnya menerima nasehat tersebut dan berangkat ke Gunung Lawu ditemani oleh Raden Arya Damar, putra Adipati Semarang.


Setelah tiba di sekitar Gunung Lawu di sebelah timur, Raden Arya Damar memberikan rekomendasi kepada Raden Ahmad untuk berhenti dan mendirikan pemukiman di tempat-tempat tersebut. Seiring berjalannya waktu, permukiman menjadi semakin padat dan kedatangan sekelompok darah biru dari Yogyakarta dan meminta izin untuk membangun benteng untuk menjadi Kadipaten selama Perang Diponegoro di daerah ini (sekitar tahun 1825).


Perang Jawa merupakan garis batas dalam sejarah Jawa dan Indonesia pada umumnya antara orde Jawa lama dan zaman baru. Itu adalah periode di mana untuk pertama kalinya pemerintah kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkecamuk di sebagian besar Jawa.
Hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah lain di sepanjang pantai utara, terkena dampak pergolakan tersebut. Dua juta orang, mewakili sepertiga penduduk Jawa, terkena dampak perang, seperempat dari semua lahan pertanian yang ada rusak dan jumlah orang Jawa yang terbunuh mencapai 200.000.
Bangsawan tersebut adalah putra Pangeran Diponegoro yang menerima peran ayahnya untuk ikut berperang dan memperkuat tempat bumi Mataram agar terbebas dari pertahanan Belanda dengan benteng pertahanan dan Kadipaten.
Putra kedua Pangeran Diponegoro yang datang menemui Raden Ahmad bernama RM Dipokusumo/RM Dipoatmodjo/Pangeran Abdul Aziz, ia datang atas perintah ayahanda Pangeran Diponegoro yang dikenal masyarakat sekitar sebagai Sultan Erutjokro dan didampingi para pengikutnya.
Sebagai pendiri Kadipaten Purwodadi atas perintah Pangeran Diponegoro, ia diangkat sebagai Adipati resmi dan merencanakan tentara untuk berperang melawan Belanda.
R.Ng Mangunnegoro diangkat sebagai Adipati dan panglima perang di daerah ini, namun nasib berkata lain dimana R.Ng Mangunnegoro menjadi Adipati dan panglima perang di daerah tersebut. Ng Mangunnegoro akhirnya tewas di medan pertempuran.
Akhirnya kedudukan panglima perang ditemukan oleh putranya yang bernama R. Ng Mangunprawiro sekaligus Adipati di Kadipaten Purwodadi setelah “Perjanjian Sepreh”.
Pangeran Dipokusumo adalah anak kedua dari BPH Diponegoro/Pangeran Diponegoro/BRM Mustahar/RM Ontowirjo/Sultan Ngabdulhamid Erutjokro Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah ing Tanah Jawa dari istri pertama R. Ay Retno Madubrongto yang merupakan putri kedua dari Kiai Gede Dadapan, seorang Ulama terkenal dari Desa Dadapan.
Seorang ulama terkenal dari Desa Dadapan, dekat Tempel-Sleman, Yogyakarta. Kadipaten tersebut diberi nama Kadipaten Purwodadi karena nama Purwodadi berasal dari kata “Purwo” yang berarti “wiwitan” dan “dadi” yang berarti “dumadi”, dengan arti asli Kadipaten.