Sejarah Desa Baluk Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan

Nama Baluk adalah nama sebuah desa di Magetan. Di masa lalu, Baluk adalah hutan belantara dan tidak ada penghuninya. Alkisah datanglah seseorang yang bernama Patih Donowongso, atau Ki Ageng Donowongso, atau juga dikenal dengan Singo Menggolo, yaitu seorang bangsawan dari Kadipaten Purwodadi.


Ki Ageng Donowongso heran dengan tempat itu, mengapa tempat itu masih berupa hutan dan tidak ada yang mau menempatinya. Karena dia ingin membuka hutan untuk membuat pemukiman, dan segera dia membabat hutan untuk mewujudkannya.
Setelah hutan dibuka, Ki Ageng Donowongso bermeditasi untuk mencari solusi dan jawaban, karena keluarga Kadipaten Purwodadi sedang mengalami kekacauan yang sulit diselesaikan. Tempat bermeditasi berada di tepi sungai di daerah yang baru saja dia bersihkan, tepatnya di perbatasan antara desa Gebyok dan desa Baluk hari ini.
Akhirnya Ki Ageng Donowongso mendapat wisik, bahwa ia akan mencari solusi jika ingin melakukan sesuatu di tepi sungai. Ki Ageng Donowongso merenung selama berhari-hari untuk memahami dan apa yang harus dilakukan di tepi sungai seperti petunjuk dalam meditasinya.
Ki Ageng Donowongso mengira tanah itu pada mulanya berupa hutan dan oleh karena itu dibuka untuk pemukiman, tetapi ada yang kurang yaitu kebutuhan pokok yang dibutuhkan, kebutuhan itu adalah air yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir, Ki Ageng donowongso juga membuat kolam kecil di tepi sungai untuk menampung air untuk kebutuhan sehari-hari. Air di Belik sangat jernih, namun ada keanehan yaitu warnanya kebiru-biruan. Ki Ageng Donowongso tercengang.
Sambil memikirkan air, seorang lelaki tua datang menemuinya. Seorang pria menderita penyakit pernapasan yang sangat parah, sehingga tubuhnya kurus kering, dan berjalan terlihat sangat sulit. Pria itu minta dirawat oleh Ki Ageng Donowongso. Mendengar keluhan dan permintaan pria itu, Ki Ageng Donowongso pun bingung.
Pada akhirnya, Ki Ageng Donowongso mendapat firasat dari Tuhan, dan dia melihat belik air yang kebiru-biruan, lalu menatap lelaki tua yang sakit itu seolah-olah ada hubungan gaib. Tanpa pikir panjang, Ki Ageng Donowongso mengambil air itu dan memberikannya kepada orang sakit itu untuk diminum. Ternyata sedikit demi sedikit airnya diminum, badan orang tua itu menjadi segar dan nafasnya juga menjadi lega.
Orang tua yang sakit itu tinggal di sana selama beberapa hari dan meminum airnya dan akhirnya sembuh. Orang tua itu kembali ke tempat asalnya setelah mengucapkan terima kasih kepada Ki Ageng Donowongso.
Dengan kejadian ini, tersebar kabar ke mana-mana bahwa di daerah itu ada belik yang airnya bisa menyembuhkan orang sakit. Berita itu menyebar ke mana-mana sehingga banyak orang yang sakit datang berobat.
Bahkan keluarga Ki Ageng Donowongso sendiri yang tidak menderita sakit dan berserakan dalam perselisihan karena Belanda saling berperang, juga datang ke tempat itu untuk menyaksikan kebenaran berita tersebut.
Ketika mereka sampai di sana dan mengetahui bahwa saudara mereka sendiri yang membuat belik, mereka berpelukan dan sangat tersentuh. Sudah lama mereka berpisah dan sudah lama tidak bertemu, kini semua orang menyadari bahwa perselisihan mereka karena diperjuangkan oleh Belanda, dan akhirnya mereka bersatu kembali seperti dulu.
Sedangkan air atau dalam bahasa Jawa Banyu masih populer dimana-mana dan ternyata karena anugerah Tuhan air tersebut dapat digunakan untuk kehidupan manusia, karena dapat menyembuhkan orang sakit, maka oleh kerabat Ki Ageng Donowongso daerah tersebut diberi nama BALUK, yang diambil dari dua kata Banyu (air) yaitu kaceLUK (terkenal). Kemudian sampai sekarang nama desa Baluk.