Sejarah Desa Takeran Kabupaten Magetan

Dahulu, saat daerah ini masih berupa hutan belantara dan rawa, dua priyayi berasal dari daerah Mataram Jawa Tengah. Kedua priyayi itu bernama Resoidjojo dan Wosotaruno. Kedua priyayi tersebut diikuti oleh beberapa orang.


Kedatangan mereka berdua dan pengikutnya sebagai buronan. Mereka kabur karena dikejar Kompeni Belanda. Karena mereka dianggap orang yang sangat berbahaya bagi keselamatan Belanda. Kedua orang ini adalah pemimpin tentara Mataram yang strategi perangnya sulit untuk ditandingi.
Kedua orang ini taat pada agama islam. Maka tak heran jika keduanya sangat disegani oleh orang-orang yang mengenalnya. Karena daerah ini masih berupa hutan belantara dan rawa-rawa, keduanya bersama pengikut setianya mulai mencoba membuat pemukiman.
Babat hutan dimulai dan mengisi rawa-rawa yang ada. Sedikit demi sedikit, hutan belantara akhirnya terbuka menjadi lahan yang siap untuk pemukiman. Namun, Resoidjojo dan Wosotaruno tidak menjadi satu dalam upaya pembukaan lahan tersebut. Meski jaraknya tidak jauh, keduanya mencari tempat sendiri.


Setelah mewujudkan pemukiman baru di tengah hutan dan rawa-rawa, mereka sekaligus sebagai pemimpin daerah masing-masing. Resoidjojo menjadi kepala daerah yang diberi nama Takeran, sedangkan Wosotaruno menjadi kepala daerah yang diberi nama Ngampon.
Keduanya lolos dari kejaran Kompeni Belanda. Bahkan pemerintah Belanda mengakui keberadaan desa-desa tersebut dan keduanya diakui sebagai kepala desa di tempat masing-masing, dan bekerja sebagai desa lain. Pada akhirnya, setelah penggabungan terjadi, kedua desa menjadi satu dan pemilihan Kepala Desa dipilih. Terpilih sebagai kepala desa adalah Resoidjojo. Sementara itu, desa gabungan muncul sebagai desa Takeran, yang terdiri dari dusun Takeran dan dusun Ngampon.


Legenda desa Takeran ini adalah sebagai berikut:
Dahulu Dusun Takeran memiliki banyak sekali orang yang berjudi. Mereka yang menjadi warga terdiri dari warga Takeran sendiri dan masyarakat sekitar Desa Takeran. Permainan judi dengan taruhan uang. Saat itu uang yang beredar adalah uang logam yang memiliki VOC. Hampir di setiap waktu dan tempat, ada orang Takeran yang bermain judi. Mereka sulit untuk dinasihati dan diarahkan dari pekerjaan terlarang dan menyesatkan itu. Kepala Desa Resoidjojo sendiri merasa kewalahan untuk mencegah dan memberantasnya.
Uang taruhan tidak hanya dihitung satu per satu, namun dengan menggunakan takaran. Taruhannya adalah dengan mangkuk. Karena maraknya perjudian ini dan begitu banyak uang yang dipertaruhkan dengan bokor, akhirnya terbentuklah desa Takeran. Asal usul kata takar.
Kepala Desa Takeran berturut-turut antara lain:
Yang pertama adalah Resiidjojo. Berasal dari desa Takeran dan setelah kematiannya, ia dimakamkan di makam Setono, dusun Ngampon, sekitar tahun 1899. Posisi kepala desa digantikan oleh Wosodrono. Asal Dusun Takeran Landangan Setelah menua pada tahun 1911, Wosodrono mengundurkan diri dan digantikan oleh Wososadimin yang berasal dari Takeran.
Pada tahun 1912, sistem baru sebagai Kepala Desa selama satu tahun, Wososadimin diberhentikan dengan tidak hormat, karena melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya. Akhirnya digantikan oleh Somokarto yang berasal dari Takeran.
Mereka mengundurkan diri dengan hormat pada tahun 1924. Posisinya digantikan oleh Tosari, dari Takeran Dukuh Mangu. Jadi sampai berikutnya.
Dalam catatan arkeologi, desa Takeran ini biasa menemukan benda-benda purbakala (arkeologi) sebagai berikut:
• Dua buah ceret atau teko yang terbuat dari tembaga dan diukir dengan relief.
• Sebuah wajan dari besi.
• Berbagai macam senjata tajam serta alat rumah tangga dan alat pertanian yang terbuat dari besi
• Pot kecil dari tanah.
• Uang Cina