Sejarah Desa Temboro, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Magetan

Orang yang pertama kali ada di daerah yang sekarang dikenal dengan Desa Temboro ini adalah Cangkrang Wesi, namun tidak ada yang tahu pasti dari mana asalnya. Setelah Cangkrang Wesi selesai menata tempat tersebut menjadi pemukiman, pendatang baru datang dari daerah Magelang Jawa Tengah.


Pendatang baru itu bernama Muhammad Jamin. Muhammad Jamin sudah lama tidak tinggal di daerah tersebut, ia belajar mengaji dari seorang Kyai di Madura. Muhammad Jamin adalah murid yang sangat rajin dan pandai sehingga mendapat hadiah dari Kyai yaitu putri kyai yang bernama Sa’idah.
Akhirnya Muhammad Jamin kembali ke asalnya dengan mengganti nama Ahmadiyah yang merupakan gabungan dari kedua nama tersebut. Setelah sampai di asalnya yang kini bernama Temboro, ia mendirikan Masjid Jami’, Masjid Jami’ pernah diasuh oleh Kyai Mardjuki.
Karena ketenaran kyai Ahmadiyah, banyak orang yang mempelajari Islam dan ilmu bacaan Al-Qur’an. Sebagian besar santrinya tinggal di tempat Kyai Ahmadiyah, dan semakin banyak pendatang dan musafir dari berbagai penjuru datang dan menetap di tempat itu.
Banyak mahasiswa yang datang selalu bertanya apakah tempatnya masih cukup untuk menginap, dan jawabannya tebane ombo! Tebane ombo artinya tempatnya masih luas. Sehingga dialek yang sering dituturkan oleh mahasiswa dan pendatang, menjadi familiar bagi masyarakat umum dan nama tempat tersebut menjadi Temboro.
Berjalannya syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari warga disana tidak lepas dari peran Pesantren Al Fatah. Pesantren Al Fatah, yang disebut Lukman, memiliki pengaruh besar bagi warga desanya, baik dari ajaran agama, perilaku sosial sehari-hari, dan ekonomi.
Kehidupan sehari-hari di pondok pesantren dan warga sekitar telah bersinergi secara harmonis selama bertahun-tahun, bahkan sejak pondok pesantren didirikan. Dibangun pada tahun 1950-an, Ponpes yang saat ini memiliki puluhan ribu santri ini pada awalnya merupakan masjid dan tempat belajar mengaji yang didirikan oleh Kiai Haji Mahmud.
Hanya dengan perkembangan zaman, Pondok Pesantren Al Fatah memiliki Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Madrasah Tahfidzul Quran, dan Madrasah Diniyah.
Di bawah kepemimpinan KH Uzairon Hayfur Abdillah yang merupakan putra dari KH Mahmud, Pondok Pesantren Al Fatah mulai mengalami perkembangan yang pesat.
Saat ini, bangunan pesantren telah tersebar di tiga lokasi yang mendominasi kawasan Desa Temboro, yakni Pondok Pusat, Pondok Utara, dan Trangkil Darussalaam yang sebagian besar merupakan pondok perempuan.
Ada lebih dari 50 persen penduduk di ‘Kampung Medina’ Indonesia, adalah pendatang, sisanya adalah penduduk asli Desa Temboro. Mereka adalah santriwan dan santriwati yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, serta 16 negara yang saat ini sedang menuntut ilmu di Pesantren Al Fatah.
Sedangkan dari pakaian, sejak lama hampir semua warga Desa Temboro berpakaian sesuai sunnah, seperti pada zaman para sahabat Nabi Muhammad SAW. Muslim memakai jubah, sedangkan wanita Muslim memakai pakaian sesuai syariat Islam, lengkap dengan kerudung dan penutup wajah.
Adat warga Temboro yang menduplikasi kota Madinah, Arab Saudi, mulai diterapkan setelah pondok dipimpin oleh KH Uzairon Hayfur Abdillah pada 1990-an. Setelah kuliah di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, ia aktif berdakwah untuk menyebarkan Islam dan ajaran sunnah.
Tak hanya keliling desa, ia juga berkeliling Indonesia dan beberapa pelosok tanah air. Kiai juga menerima santri dari berbagai penjuru nusantara dan luar negeri. Setelah KH Uzairon wafat pada tahun 2014, kepemimpinan Pondok Pesantren Al Fatah adalah oleh adik-adiknya, yaitu KH Ubaidillah Ahror dan KH Umar Fatahillah.